Kamis, 01 September 2011

Save Our Earth

Begitu indah kurasakan,saat burung-burung mulai riang bernyanyi
Dan sejuk angin yang berhembus, damaikan hati
Begitu nyaman kurasakan, saat kuhirup udara di pagi ini
Dan hangat sinar matahari, sejukkan diri
(Wake Up-Bersihkan Bumi Ini)

Itu adalah sepenggal lirik lagu dari sebuah band indie yang berisi tentang keindahan alam, yang merindukan suasana indah, rindu akan suasana damai yang dulu pernah ada. Dan mungkin akan menjadi sebuah cerita yang mungkin akan menjadi dongeng pengantar tidur di masa depan.

Coba lihat sejenak di sekeliling kalian..

Tanpa kita sadari, jumlah hutan di negara kita terus berkurang setiap tahunnya, lahan pertanian yang terlihat hijau berubah menjadi bangunan-bangunan tinggi besar yang berdiri angkuh, dan saluran air kini dipenuhi oleh benda-benda kotor yang mereka disebut SAMPAH!
Perlahan,, mereka merusak alam ini, mereka buang sampah disembarang tempat, mereka asal menebang pohon-pohon di hutan untuk kepentingan bisnis, dan bila terjadi bencana alam yang memakan banyak korban, dengan santainya mereka menyalahkan Tuhan.
Kata mereka Tuhan tidak adil, kata mereka Tuhan sedang murka, bahkan ada beberapa dari mereka yang bilang kalau kiamat sudah dekat karena sering terjadi bencana dimana-mana, sebuah kumpulan manusia bodoh yang selalu menyalahkan keadaan tanpa introspeksi diri.



Pernah ga terpikir di benak kita, berapa tahun yang dibutuhkan oleh tanah yang subur untuk menghancurkan plastik, kertas, dan kaleng yang kita buang sembarangan? Apa fungsi sebenarnya pohon-pohon yang ditanam di pinggir jalan? Dan kenapa cuaca sekarang menjadi tidak menentu?

Hmm, mungkin pertanyaan terakhir yang sering terlintas di otak kita..

Kata guru SD dan buku IPS yang sempat saya baca dulu, Indonesia memiliki iklim tropis dan hanya memiliki 2 musim dalam satu tahunnya, yaitu musim kemarau dan penghujan, jadi tiap musim memiliki jangka waktu 6 bulan(rata-rata)

Tapi..

itu dulu saat saya masih anak-anak dan belum mengenal para POLUTAN! Kondisi sekarang jelas jauh berbeda, cuaca menjadi sulit ditebak, yang seharusnya sudah musim kemarau, ternyata tiap hari masih hujan, mungkin ini salah satu efek dari GLOBAL WARMING yang sering mereka teriakkan tanpa mereka tau apa arti sebenarnya dari pemanasan global tersebut. Ckckck.
Mereka mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa memikirkan resikonya, dan mungkin yang mereka pikirkan HANYA berapa jumlah uang di saku mereka daripada jumlah makhluk hidup yang terpaksa punah karena ulah mereka.

Oke,mungkin kalau dilihat secara kasat mata tujuan mereka baik, seperti mengganti sawah dengan rumah sakit untuk membuka lapangan kerja bagi pengangguran, mengubah hutan jati menjadi sebuah hotel berbintang 5 dengan tujuan yang sama, keinginan untuk mengurangi pengangguran, dan tuntutan perkembangan jaman saya pikir hanya ocehan belaka, pada dasarnya juga mereka berfikir tentang keuntungan yang dapat mereka raih dari proyek mereka. Mereka tidak memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi bagi alam dan isinya dari pembangunan tersebut, karena itulah alam disekitar kita terkesan tidak seimbang.
Seperti contoh yang lebih spesifik lagi, mereka membangun pabrik di daerah yang sangat dekat dengan pemukiman penduduk, dan mereka berjanji akan membangun puskesmas(atau semacamnya lah)beserta apotik GRATIS untuk masyarakat sekitar jika pabrik sudah selesai dibangun.
Sama aja kan mereka menciptakan penyakit yang mereka sembuhkan sendiri?itu baru disisi kesehatan, belum disisi lain yang ga mungkin saya jelaskan satu per satu.
Bodoh..

Huh, entah sampai kapan kondisi buruk ini terus berlanjut, saya amat sangat berharap anak cucu kita masih bisa melihat penyu,kunang-kunang, dan burung gereja TANPA HARUS pergi ke kebun binatang atau melihat di tv!

Dan saya harap kalian tidak termasuk dari MEREKA!
ingat, Bumi kita CUMA SATU! Dan yang pasti belum ada orang hebat yang menemukan Bumi lain seperti yang kita tempati sekarang!

"ketika hewan terakhir mati, dan pohon terakhir tumbang, kita semua akan sadar kalau UANG TIDAK BISA DIMAKAN !!!!"

Tidak ada komentar: